Seks Sebelum Pernikahan

Seks adalah sebuah kata yang berbahaya dalam bahasa kita. Seks adalah rahasia, masalah pribadi dan bukan sesuatu yang kita bicarakan dengan orang lain secara mudah. Kehidupan cinta kita adalah privat. Tetapi budaya kita menuntut seorang perawan di malam pertama pernikahan. Apakah kebiasaan ini masih harus dipertahankan atau sudah merupakan sisa budaya lama? Jaman kita sudah berbeda, kita sudah lebih menyadari apa yang kita sukai dan kita cintai. Tubuh kita bukan lagi obyek yang aneh bagi kita. TV, film dan internet mengajarkan kepada kita bagaimana merawat tubuh kita sendiri, mengetahui bagaimana semua bagian tubuh berfungsi. Kita terstimulir secara seksual oleh banyak rangsangan impresif dari luar. Pembicaraan mengenai seks sudah lebih terbuka dan cara berpakaian sudah tidak lagi menyembunyikan tubuh kita. Bahasa tubuh kita menunjukkan ketertarikan kepada orang lain dan orang-orang tersebut akan merasakan ingin dekat dengan kita atau kita dengan mereka. Daya tarik fisik adalah sebuah seleksi alam. Generasi muda saat ini tidak lagi mampu menahan dorongan alami dan kebanyakan melakukan hubungan seks segera setelah mereka memulai hubungan percintaan. Apakah ini sesuatu yang salah? Itu adalah sebuah pertanyaan yang terus bergaung di dunia Barat sejak tahun 60an dan kita belum menemukan jawabannya sampai sekarang. Kaum religius menyatakan hal itu salah berdasarkan tulisan dalam buku dan kitab suci mereka. Apakah ada bukti fisik, adakah akibat mental negatif dari melakukan hubungan seks sebelum pernikahan? Tidak ada bukti ilmiah yang dapat membuktikan hal tersebut! Pertanyaan utama adalah; apa yang Anda anggap penting, apa visi-visi religius Anda dan apa yang Anda rasakan secara moral terhadap hal ini? Seks sebelum pernikahan adalah sebuah persoalan pribadi dan bukan lagi urusan masyarakat.

 

Arnaud van der Veere

Leave a Comment.