Sunat, Religius atau Medis?

Tradisi sunat nampaknya penuh dengan unsur agama namun pada dasarnya hanyalah sebuah penyesuaian medis. Mari kita melihat kembali asal-usul sunat di Timur Tengah. Kulit luar dari penis sulit dipisahkan pada usia awal kehidupan seorang bayi laki-laki. Hal ini berbeda dari satu anak ke anak yang lain tetapi biasanya kulit itu ketat dan sulit ditarik. Akibatnya ada kemungkinan sisa-sisa air kencing tertinggal di bawah kulit akan menimbulkan banyak faktor iritasi kulit yang dapat mengarah ke segala macam infeksi. Untuk memahami alasan utama megapa sunat dianggap lebih baik, kita harus melihat ke lingkungan di mana tradisi ini dimulai.
Sejauh kita ketahui tradisi ini dimulai di wilayah-wilayah padang pasir. Di daerah ini dengan suhu ekstrim dan kelembaban rendah, penis disembunyikan dalam pakaian yang jarang diganti. Di masa lalu penduduk bahkan tidak menggunakan pakaian dalam. Kombinasi dari lingkungan yang kering, urine atau bahkan semen dan tidak adanya kebersihan yang pantas akan membuat kondisi yang sempurna bagi infeksi di bawah kulit. Infeksi yang makin bertambah parah dapat menyebabkan kasus infertilitas pada laki-laki. Kejadian ini tentunya sangat tidak diharapkan.
Ketika anak laki-laki menjadi dewasa dan ketika laki-laki menjadi semakin tua, semen akan merembes keluar dari penis. Ejakulasi ini tidak terjadi dengan kecepatan tinggi seperti dalam ejakulasi yang sesungguhnya. Biasanya semen merembes keluar sedikit demi sedikit dan akan menempel di sekitar permukaan penis. Rembesan ini terlihat seperti cairan putih dan lengket. Jika semen ini tidak segera dibersihkan akan menimbulkan iritasi kulit dan infeksi. Pada kaum laki-laki berusia lanjut, iritasi kulit dapat menyebar ke seluruh area karena banyaknya kondisi yang mendukung.
Di masa lalu para ahli telah menemukan bahwa pembuangan kulit paling luar akan mencegah banyak kasus infeksi sebelum itu terjadi. Sehingga disarankan secara medis untuk membuang kulit luar sedini mungkin karena saat dewasa pembuangan ini akan sulit dilakukan dan menyakitkan. Untuk mencegah efek negatif yang lain, operasi semacam ini disarankan dilakukan saat anak laki-laki masih bayi.
Pertanyaannya adalah mengapa sunat menjadi semacam praktek religius?
Jawabannya adalah bahwa kebanyakan laki-laki tidak berminat untuk membicarakan hal-hal semacam ini karena topik laki-laki adalah bukan hal yang pantas dibicarakan secara umum. Bagi banyak laki-laki, ini adalah sesuatu yang memalukan. Pemimpin agama mampu mempromosikan sunat sebagai sebuah praktek religius supaya dapat diterima oleh semua laki-laki. Pada masa itu tidaklah pantas mengajarkan praktek kebersihan padahal hal ini diperlukan untuk mencegah kematian dini dan infertilitas. Masjid bukan hanya menjadi tempat untuk melakukan kewajiban agama namun juga untuk menyebarkan informasi. Banyak masjid digunakan untuk mendidik pengunjung, hal inilah yang menjadi salah satu kekuatan besar agama Islam.
Banyak laki-laki, terutama kaum Barat, memiliki beberapa pertanyaan penting. Ketika kulit luar dibuang, apakah seks masih terasa menyenangkan? Jawabannya berbeda dari satu orang ke orang yang lain. Ketika kulit luar dibuang di usia dini, syaraf-syaraf menjadi lebih tidak sensitif terhadap rangsangan karena mereka terbuka siang dan malam terhadap sentuhan dan gerakan. Tampaknya hal ini membuat laki-laki dalam hubungan seks membutuhkan lebih banyak waktu untuk mencapai ejakulasi dibandingkan dengan laki-laki yang tidak disunat, hal ini lebih disukai kaum wanita. Faktanya adalah sensitifitas kepala penis lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak disunat, mungkin  hal ini dapat menerangkan mengapa laki-laki Barat lebih menyukai seks oral dibandingkan dengan kaum laki-laki yang disunat, namun hal ini hanyalah sebuah spekulasi yang tidak berdasarkan riset ilmiah.
Arnaud van der Veere